LA
MADDUKKELLENG adalah putera dari Arung Peneki La Mataesso To
Ma’dettia dan We Tenriangka Arung Sengkang, saudara Arung Matowa
Wajo La Salewangeng To Tenrirua (1713-1737). Di saat la maddukelleng Menginjak masa remaja ia diajak oleh pamannya mengikuti acara adu ayam di kerajaan Bone. tapi pada waktu acara tersebut di mulai ada kecurangan yang dimana orang Wajo
merasa di curangi, dan La Maddukkellengpun tidak tinggal diam dengan kejadian tersebut maka perkelahianpun terjadi.Ia lalu kembali ke Wajo dalam
pengejaran orang Bone, lalu lamaddukelleng menghadap ke Dewan Ade Pitue guna untuk memohon izin untuk
pergi merantau mencari ilmu. tapi dia hanya berbekal Tiga Ujung, (ujung mulut, ujung
tombak, dan ujung kemaluan) ia berhasil di negeri Pasir (Kalimantan)
sampai ke Malaysia, dan merajai Selat Makassar, hingga Belanda
menjulukinya dengan Bajak Laut. Dia berhasil menikah dengan puteri raja
Pasir, dan salah seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai. Dia dan
pengikutnya tak henti-hentinya melawan Belanda.
Setelah sepuluh tahun La
Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah surat dari Arung Matowa Wajo. isi surat itu mengajak kembali lamaddukelleng ke wajo, karena Wajo dalam ancaman Bone. La Maddukkellengpun akhirnya
kembali lagi ke Wajo dan dia diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV.
Pada
tahun 1713, Raja Bone La Patau Matanna Tikka mengundang Arung Matowa
Wajo La Salewangeng untuk menghadiri perayaan pelubangan telinga
(pemasangan giwang) puterinya I Wale di Cenrana (daerah kerajaan Bone).
La Maddukkelleng ditugaskan pamannya (dia putera saudara perempuan La
Salewangeng) ikut serta dengan tugas memegang tempat sirih raja.
Sebagaimana lazimnya dilakukan di setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar,
diadakanlah ajang perlombaan perburuan rusa (maddenggeng) dan sambung
ayam (mappabbitte).
Pada
saat berlangsungnya pesta sambung ayam tersebut, ayam putera Raja Bone
mati dikalahkan oleh ayam Arung Matowa Wajo. Kemenangan itu tidak diakui
oleh orang-orang Bone dan mereka berpendapat bahw pertarungan tersebut
sama kuatnya. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya keributan.
Pada saat itu La Maddukkelleng turut serta dalam perkelahian tersebut
yang mengakibatkan korban di pihak Bone lebih banyak dibandingkan korban
pihak Wajo. Lontarak Sukunna Wajo menyatakan bahwa pada waktu terjadi
perkelahian tersebut, terjadi tikam menikam antara orang-orang Wajo-Bone
di Cenrana, saat itu La Maddukkelleng baru saja disunat dan belum
sembuh lukanya. Melihat kenyataan tersebut (karena mereka di wilayah
kerajaan Bone), maka orang-orang Wajo segera melarikan diri melalui
Sungai Walennae.
Setibanya
Arung Matowa Wajo La Salewangeng di Tosora, maka datanglah utusan Raja
Bone untuk meminta agar La Maddukkelleng diserahkan untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya (dianggap bersalah). Arung Matowa
Wajo mengatakan bahwa La Maddukkelleng tidak kembali ke Wajo sejak
peristiwa di Cenrana. Utusan raja Bone itu kembali sekalipun ia yakin
bahwa La Maddukkelleng masih berada di daerah Wajo, namun tidak dapat
berbuat banyak karena adanya ikrar antara Bone, Soppeng dan Wajo di
Timurung pada tahun 1582, bahwa tiga kerajaan itu harus saling
mempercayai.
La
Maddukkelleng datang menghadap dan meminta restu Arung Matowa Wajo dan
Dewan Pemerintah Wajo (arung bentempola) untuk berlayar meninggalkan
daerah Wajo. Saat itu bertepatan dengan selesainya pembangunan gedung
tempat penyimpanan harta kekayaan di sebelah timur masjid Tosora serta
gedung padi di tiga limpo. Anggota Dewan pemerintah Kerajaan Wajo (La
Tenri Wija Daeng Situju) berpesan agar senantiasa mengingat negeri Wajo
selama perantauan. Lalu La Maddukkelleng ditanya tentang bekal yang akan
dibawa, ia menjawab bahwa ada tiga bekal yang akan dibawa serta yaitu:
pertama lemahnya lidahku, kedua tajamnya ujung kerisku dan yang ketiga
ujung kelaki-lakianku.
Dengan
disertai pengikut-pengikutnya La Maddukkelleng berangkat dari Peneki
dengan menggunakan perahu layar menuju Johor (Malaysia sekarang).
Lontarak Sukunna Wajo memberitakan bahwa La Maddukkelleng dalam
perjalanan bertemu dengan saudaranya bernama Daeng Matekko, seorang
saudagar kaya Johor. Hal ini membuktikan bahwa lama sebelumnya
orang-orang Wajo sudah merambah jauh negeri orang. La Maddukkelleng
diperkirakan merantau pada masa akhir pemerintahan Raja Bone La Patauk
Matanna Tikka Nyilinna Walinonoe, yang merangkap sebagai Datu Soppeng
dan Ranreng Tuwa Wajo, sekitar tahun 1714.
( Sumber: http://gnetnusantara.blogspot.com/ )


Posting Komentar