Hedonisme adalah paham
sebuah aliran filsafat dari yunani yang sudah membudaya di indonesia, merupakan
sebuah pandangan hidup yang menganggap bahwa seseorang akan bahagia apabila
mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari
perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat
pada tahun 433 SM oleh Socrates, Aristippos, dan Epikuros, tokoh-tokoh
filsuf yunani.
Jika kita berbicara
tentang hedonisme tidak sedikit yang menganggap bahwa hedoisme itu adalah suatu
ajaran/aliran yang bersifat negatif, namun sebenarnya hedonisme ini mempunyai
sisi positif ketika kita mampu mengontrolnya dengan baik, karna tujuan
sebenarnya dari paham aliran ini adalah untuk menghindari kesengsaraan dan
menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan.
Di sebabkan karna
perkembangannya, makna hedonisme yang sebenarnya mengalami pergeseran,
kebahagiaan di pahami sebagai kenikmatan belaka tanpa mempunyai arti mendalam, maknanyapun
berubah, pemahaman positif menghilang dan pemahaman negatif melekat dalam
hedonisme. Dari situlah pemahaman hedonis yang lebih mengedepankan kebahagiaan
diganti dengan mengutamakan kenikmatan. Yang di mana pengertian kenikmatan
berbeda dari kebahagiaan, kenikmatan cenderung lebih bersifat duniawi daripada
rohani. Kenikmatan hanya mengejar hal-hal yang bersifat sementara dan masa
depan tidak lagi terpikirkan, serta berasumsi bahwa hidup adalah suatu
kesempatan yang datangnya hanya sekali, maka dari itu isilah dengan kenikmatan,
tanpa memikirkan efek jangka panjang yang akan di akibatkan.
Kenyataannya hedonisme
yang demikianlah yang berkembang di indonesia saat ini. Hedonisme ini lebih
cenderung menyerang remaja dalam konteks ini adalah mahasiswa, karna mahasiswa
pada umumnya mempunyai kebebasan sendiri dalam menentukan suatu hal, termasuk
juga menentukan konsep hidup mereka kedepannya, serta pada masa remaja juga,
individu sedang dalam keadaan bingung mencari jati diri mereka yang sebenarnya.
Nah, dalam proses pencarian itu hedonisme datang dengan tawaran yang
menggiurkan mahasiswa, sehingga tanpa sadar mahasiswapun ikut melestarikannya.
Hedonisme menggiring mahasiswa ke dalam culture of banality (budaya
kedangkalan) di mana segala informasi yang mereka terima langsung di cerna
mentah-mentah, tanpa di proses, di verivikasi, dan di dalami dengan logika
kerja fikiran, tak salah kemudian banyak tokoh mahasiswa yang mudah terjebak
dalam jaringan terorisme.
Hedonisme menjadikan
mahasiswa kritis karakter sehingga tak mampu menjalankan predikatnya sebagai
agent of sosial cange, agent of control. Masalah yang komplekspun akan timbul
ketika banyak mahasiswa di negara ini terserang hedonisme. Banyaknya mahasiswa
yang bermalas-malasan, lebih mementingkan kesenangan sementara, yang menganggap
tujuan utama hidup mereka adalah kesenangan dan kenikmatan materi, serta tidak
serius dalam menuntut ilmu, maka ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) di
negara ini juga akan sulit berkembang, negara kita akan tertinggal dari
negara-negara lain di karenakan kita kalah dalam hal IPTEK.
Maka dari itu sebagai
mahasiswa yang intelek marilah kita bersama-sama menghilangkan budaya
hedonisme, jangan biarkan diri kita terjebak dalam kesenangan dan kenikmatan
yang bersifat sementara, sebab itu hanya akan merusak pribadi kita sendiri,
kita semua menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi muda penerus bangsa.
MAHASISWA BISA, HIDUP MAHASISWA.

Posting Komentar